ETIKA BERGAUL
DENGAN ORANG LAIN
1. Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka
cacat.
2. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka,
lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya.
3. Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka
diberi hak dan dihargai.
4. Perhatikanlah mereka, kenalilah keadaan dan kondisi mereka, dan tanyakanlah
keadaan mereka.
5. Bersikap tawadhu'lah kepada orang lain dan jangan merasa lebih tinggi atau
takabbur dan bersikap angkuh terhadap mereka.
6. Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain.
7. Berbicaralah kepada mereka sesuai dengan kemampuan akal mereka.
8. Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka.
9. Mema`afkan kekeliruan mereka dan jangan mencari-cari
kesalahan-kesalahannya, dan tahanlah rasa benci terhadap mereka.
Dengarkanlah pembicaraan mereka dan hindarilah perdebatan dan
bantah-membantah dengan mereka.
ETIKA MENJENGUK
ORANG SAKIT
Untuk orang yang berkunjung (menjenguk):
Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat
untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya
untuk menghibur dan membahagiakannya.
Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit yang
dirasakannya, seperti mengata-kan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?”.
Sebagai-mana pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.
Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan
disehatkan. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu telah meriwayat-kan bahwasanya Nabi
Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau menjenguk orang sakit, ia
mengucapkan: “Tidak apa-apa. Sehat (bersih) insya Allah”. (HR. Al-Bukhari). Dan
berdo`a tiga kali sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Shallallaahu alaihi wa
Sallam.
Mengusap si sakit dengan tangan kanannya, dan berdo`a:
“Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai Tuhan bagi manusia,
sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan
dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (Muttafaq’alaih).
Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, dan hendaknya tidak
mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.
Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan
kedua matanya dan mendo`akan-nya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam
telah bersabda: “Talkinlah orang yang akan meninggal di antara kamu “La ilaha
illallah”. (HR. Muslim).
Untuk orang yang sakit:
Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.
Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya
adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa
sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan
tidak mem-butuhkan ketaatannya
Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan
olehnya, dan segera mem-bayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada
pemi-liknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
Memperbanyak zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan beristighfar (minta
ampun).
Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yang dideritanya,
karena dengan demikian ia pasti diberi pahala. Rasulullah Shallallaahu alaihi
wa Sallam bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang mu’min baik berupa
kesedihan, kesusahan, keletihan dan penyakit, hingga duri yang menusuknya, melainkan
Allah meninggikan karenanya satu derajat baginya dan mengampuni kesalahannya
karenanya”. (Muttafaq’alaih).
Berserah diri dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dengan tidak melupakan usaha-usaha
syar`i untuk kesembuhan-nya, seperti berobat dari penyakitnya.
ETIKA MENJENGUK ORANG SAKIT
Untuk orang yang berkunjung (menjenguk):
Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat
untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya
untuk menghibur dan membahagiakannya.
Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit yang
dirasakannya, seperti mengata-kan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?”.
Sebagai-mana pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.
Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan
disehatkan. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu telah meriwayat-kan bahwasanya Nabi
Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau menjenguk orang sakit, ia
mengucapkan: “Tidak apa-apa. Sehat (bersih) insya Allah”. (HR. Al-Bukhari). Dan
berdo`a tiga kali sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Shallallaahu alaihi wa
Sallam.
Mengusap si sakit dengan tangan kanannya, dan berdo`a:
“Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai Tuhan bagi manusia,
sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan
dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (Muttafaq’alaih).
Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, dan hendaknya tidak
mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.
Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan
kedua matanya dan mendo`akan-nya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam
telah bersabda: “Talkinlah orang yang akan meninggal di antara kamu “La ilaha
illallah”. (HR. Muslim).
Untuk orang yang sakit:
Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.
Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya
adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa
sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan
tidak mem-butuhkan ketaatannya
Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan
olehnya, dan segera mem-bayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada
pemi-liknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
Memperbanyak zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan beristighfar (minta
ampun).
Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yang dideritanya,
karena dengan demikian ia pasti diberi pahala. Rasulullah Shallallaahu alaihi
wa Sallam bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang mu’min baik berupa kesedihan,
kesusahan, keletihan dan penyakit, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah
meninggikan karenanya satu derajat baginya dan mengampuni kesalahannya
karenanya”. (Muttafaq’alaih).
Berserah diri dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dengan tidak melupakan
usaha-usaha syar`i untuk kesembuhan-nya, seperti berobat dari penyakitnya.
ETIKA MAKAN DAN MINUM
Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Allah Shallallaahu alaihi
wa Sallam berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki
yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini
artinya adalah yang halal.
Hendaklah makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat
beribadah kepada Allah, agar kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.
Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, dan begitu
juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tanganmu.
Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan
jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam
haditsnya menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali
tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka
ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).
Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan
aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam haditsnya, Ibnu Umar Radhiallaahu
anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua
tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil
menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).
Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan
perak. Di dalam hadits Hudzaifah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi
Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “... dan janganlah kamu minum
dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan
dengan piring yang terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir)
di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).
Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri
dengan Alhamdulillah. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhanahu
wa Ta'ala dan jika lupa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala pada awalnya
maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu Daud dan
dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat
meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan
apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).
Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu.
Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah:
“Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan
makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).
Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu
sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan:
“Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari dan ia
menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).
Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor
darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang
bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”.
(HR. Muslim).
Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits
Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang
bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan
oleh Al-Albani).
Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk
yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang
beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka
sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi
untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Hendaknya pemilik makanan (tuan rumah) tidak melihat ke muka orang-orang
yang sedang makan, namun seharusnya ia menundukkan pandangan matanya, karena
hal tersebut dapat menyakiti perasaan mereka dan membuat mereka menjadi malu.
Hendaknya kamu tidak memulai makan atau minum sedangkan di dalam majlis ada
orang yang lebih berhak memulai, baik kerena ia lebih tua atau mempunyai
kedudukan, karena hal tersebut bertentangan dengan etika.
Jangan sekali-kali kamu melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa
jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kamu mendekatkan kepalamu
kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang
mengandung makna kotor dan menjijik-kan.
Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas
beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir
bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)
Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur, karena di dalam hadits
Anas disebutkan “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang
minum sambil berdiri”. (HR. Muslim).
[Taken From Kitab "Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari" By :
Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar